Koran Suara Merdeka

Maret 6, 2012 - Leave a Response

Puisi Jufri Zaituna

kisah anak-anak kami yang
hanya bisa mengambil batu
untuk melempar mulutmu
di layar televisi
 
nyanyian itu tak juga merdu
menyentuh kalbu yang penuh debu
lebam berbatu-batu
daun-daun telinga anak-anak kami
berguguguran kembali
hanya bisa memejamkan mata
untuk hari esok
memandang wajah nasib
yang lebih baik lagi

anak-anak kami tak mampu lagi
untuk mendongakkan kepala
setinggi gedung-gedung bertingkat
karena tak percaya lagi bila di langit
masih ada bintang-bintang harapan
apalagi layang-layang menari-nari
menghapus awan kegetiran

sebab tetes airmata dan keringat
lebih berat dari patung garuda
yang terbuat dari emas 24 karat
dalam ruang menggelantung AC
berukuran rumah pemulung
dan lembaran-lembaran kertas
berisikan janji-janji palsu para pengikat
dasi yang terus mengaji ayat kursi-kursi
untuk dirinya sendiri

anak-anak kami
hanya bisa mengambil batu
untuk melempar mulutmu di layar televisi
sampai kesakitan jatuh di liang maut
yang telah lama digali
sepanjang dinginnya sejarah
membekukan kekuasaanmu

2011

kisah seorang ibu tentang
anaknya yang bekerja
di salon terkenal dan akan
terbang ke bulan

pejalan kaki itu
kini telah berambut api
ingin sekali kupenggal kepalanya
walau dia anakku sendiri
yang lupa mengutuk diriku
menjadi lumut bahasa
yang menempel di tubuh puisinya

sebab sudah lama tak terdengar kabar
bila dia masih suka membakar salon
mengikat bulan di ketiak anjing
ketika menulis puisi pemberontakan
untuk dipersembahkan pada kekasihnya
yang masih suka memakai minyak wangi
yang baunya seperti tikus-tikus liar
yang semakin beranak pinak
karena rahim ibunya tak muat lagi
menampungnya bersama serangga
yang merayap di kursi ukiran pantat
penari telanjang yang menyuguhkan
susu murni, buatan ibu pertiwi
yang tertinggal di atas meja pengadilan

bila aku bertemu kembali
akan kupenggal kepalanya
dengan pisau cukur
agar bayangannya tetap hadir
menjaga diriku
yang masih menunggu
ia bekerja lagi di salon terkenal
lalu terbang ke bulan
untuk mengadukan puisinya
yang sebentar lagi gulung tikar

2011
 
kisah pantat puisi
yang tumbuh ekor
puisi orang yang juga
berekor puisi orang

bertahun-tahun diriku tersesat
dalam hutan kata-kata
bahasa tumbuh menjadi kemarung,
mawar, pohon jati, ada juga
yang tumbuh menjadi tiada

semuanya tumbuh menjadi ketakutan
yang semakin liar
meliliti semak-semak perasaan
udara sesal meraung-raung
serupa harimau
kesakitan bergelantungan
di dahan-dahan ingatan

dimana diriku sebenarnya?
bila makna tak ada jalan
untuk menemukan kejernihan
apalagi kata mereka:
pantat puisiku masih tumbuh ekor
puisi orang yang juga tumbuh ekor
puisi orang

2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.